I learnt a lot of thing this year! :)
Dari awal tahun yang kisah menang, sampe kalah, RoFest, dimarahin Adil habis bagi rapot saat ngungkapin apa yang ada di otak saya saat itu, sampai akhirnya... beberapa hari yang lalu dapat semacam "tamparan" sms dari seorang adik kelas yang tiba-tiba bikin saya nangis beberapa kali tiap kali inget itu; apalagi di ending shalat habis shalat itu rasanya.... kayak keran ngocor.
"Alhamdulillah; belakangan; terutama sejak jadi pengurus Rohis dan terutama BPH, saya ngerasa punya tanggung jawab lebih untuk "menjaga image" terutama dalam "Love Life". Gak mungkin saya failed2nya seakut dulu; yang nanti bisa jadi bencana kalo sampe dicontoh Adik kelas. Ada tuntutan lebih; well- selain memang karena perintah Allah, saya berharap seenggaknya nggak nyontohin yang buruk-buruk buat mereka.
Tapi jujur aja; saya ngerasa belum sempurna dalam hal ini. Masih banyak cela dalam perbuatan saya sehari-hari. Dan semoga kelanjutannya bisa diperbaiki lagi."
Tapi tiba-tiba saat baca sms itu, runtuh semua pendapat diatas. Isi smsnya sih sebenernya bukan tentang saya; cuma entah... Ngerasa malu aja si adik kelas bisa mikir kesana sedangkan saya aja belum seperti apa yang dia pikirkan. Dia ngerasa takut ngelanjutin dakwahnya karena masalah "love life". Subhanallah... Saya seneng banget pertama kali bacanya; gak banyak orang yang berani mengatakan itu.
Gak banyak.
Gak banyak.
Sampai akhirnya pertanyaan ini muncul di tengah-tengah kesenangan saya baca sms itu
"Lalu lu gimana, Win?"
Senyum saat itu juga pudar dari wajah saya. Muka langsung panas, dan tiba-tiba sudut kedua mata tergenang.
Sejak awal kepengurusan, saya punya keraguan yang sama dengan si adik kelas. Namun pada akhirnya saya memutuskan untuk melanjutkannya karena, saya yakin bisa menjaga batasan-batasan yang seharusnya. Dan katanya kan, gapernah ada yang salah dengan memiliki perasaan. Akhirnya saya enggak cerita ke "yang seharusnya tahu" untuk dijadikan bahan pertimbangan untuk tidak menyetujui saya sebagai badan pengurus harian dulu; karena astaga... jujur aja saya merasa ini terlalu konyol.
Lalu bagaimana jika perasaan itu jatuh pada orang yang salah?
Bagaimana jika ternyata; itu sangat sudah sangat lama, namun tak kunjung selesai?
Bagaimana jika sudah mencoba menghindar, namun setiap sudut hidup kemanapun pergi, selalu muncul lagi hal yang membuat ingat, lagi dan lagi?
Dan; apakah keputusan untuk melanjutkan yang dulu itu adalah keputusan yang salah. Salah karena; apa saya tidak bertanggung jawab atas keputusan itu?
Dan entah kenapa perasaan bersalah menghantui saya selama ini karena tidak memutuskan untuk tidak menyanggupi amanah itu.
Dan satu lagi pertanyaan, hanya saya, Allah, dan makhluk yang baru diceritakan yang tahu... Dan itulah yang bikin paling kejer -_- yang paling membuat saya ngerasa nggak berhak atas tanggung jawab itu.
Belum lagi; ini kisah yang nggak pernah ber"ending" baik -_-
Sejujurnya sih perasaan ini bukan perasaan yang baru muncul kemudian saya bersenang-senang atasnya. Ini udah bertahun lamanya; dan yang saya coba hanya menghapusnya dari dulu namun gak pernah bisa bersih.
Sama kayak teori LJK
"Sekuat apa kita menghapus bekas pensil di jawaban yang salah; bekas hapusannya gak akan pernah benar-benar bersih. Karena pasti ada bekasnya."
Mungkin itu yang saya rasain.
Bukan perasaan yang bikin pengen selalu ketemu, deket, ngobrol, apalagi dekat dengan sms dll -___- Jangankan itu, ngeliat dari jauh pun rasanya kalo bisa nggak ketemu, lebih baik enggak.
Dan akhirnya; setelah ribuan kali bertanya pada diri sendiri "Haruskah ini disimpan terus? Seolah-olah gw nggak ngerasa bersalah sama sekali atas ini?"... Dan setelah bertanya di setiap shalat beberapa hari ini, finally... Saya memutuskan untuk jujur kepada seorang makhluk; yang saya nggak berani jujur daridulu karena takut dimarahin dan lainnya. Walau saya tahu kemungkinan dia akan ngingetin saya itu ada; cuma dari dulu banget saya nggak pernah ngerasa siap.
Jengjeng; sampai akhirnya saya mengutarakan perasaan bersalah saya dan siap menerima konsekuensinya entah itu dimarahi, dll... Dan responnya......... Sama sekali bukan seperti yang ada di otak saya.
Well- I learnt a lot of thing. Orang itu hanya memberikan saran, dan menyuruh saya untuk tidak merasa bersalah. Intinya; all I have to do is keep fighting. Dan berceramah hahaha (saya nggak pernah nyangka akan ada ceramah)
Dan intinya; saya berterima kasih sekali. :)
Oke... Love life saya nggak pernah ber-ending baik. Udah berdo'a terus supaya LJKnya bener-bener dihilangin aja sekalian biar sama sekali enggak ada perasaan macam ini untuk sekarang. Lagipula hahaha, he loves her -_- Intinya minta diilangin bukan karena itu sih; biar tenang aja atas ikrar ke-5. Jangan sampai membuat merasa, "diluar begitu ternyata di dalam masih nyangkut hal-hal kaya begini."
Last;
"Allah kan selalu punya skenario terbaik untuk setiap cerita yang ada."
Semoga insiden "tersandung cinta"nya lagi bisa diambil pelajarannya. Dan semoga Allah tidak pernah membiarkan kita masuk ke dalam "jurang". Aamiin.
Jadi biarkan yang ada mengalir dan yah yaudah -_- Just do our best, and let Him do the rest. Jadi, dari suramnya cerita saya, hingga adanya rasa bersalah... Semoga rasa bersalah itu yang selalu ngingetin hati ini ketika mungkin sedang futur karenanya.
Wassalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh.
No comments:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.