Friday, December 14, 2012

Ketika tersandung "cinta" *halah


Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh

Long time no see. Lama tidak menulis, kangen juga.

Well, to the point aja dari judulnya. Sebagai remaja, wajar bagi kita untuk tersandung dalam sebuah kata bernama "cinta". uhukuhuk. 
Semriwing rasanya kalo ketemu, senyam-senyum sendiri kalo lagi ngobrol, atau jejingkrakkan di kamar kalo dapet sms dari si doi. Hahahaha, lawak. 
Sayapun begitu. Tapi itu... dulu.

Sebelumnya, rasanya wajar melihat orang pacaran di sekolah. Sayapun berencana akan melakukan hal yang sama selepas lulus SMA nanti karena sebelum tamat SMA saya tidak diijinkan oleh kedua orang tua saya. Namun, arus Rohis ini menyeret saya lebih dalam memahami apa itu pacaran sebenarnya dalam agama ini. Masih ada pro dan kontra tentang pacaran dalam diri saya saat pertama kali ikut belajar disini. Masuk SMA-pun sejujurnya saya masih terlibat dengan seseorang. 

Dan pada akhirnya, Allah membiarkan saya lebih tenggelam lagi disini. Saya memperhatikan sekeliling saya, teman-teman saya yang sedang menjalin sebuah hubungan bernama pacaran. Jadian, smsan, teleponan unyu, pegangan tangan, bermanja-manja, sampe tukeran jawaban pas ulangan -___- Kok rasanya aneh?! 

Kok cewe-cewe itu mau dipegang-pegang?
Mau dirangkul?
Yakin banget pacarnya Cuma romantis sama dia doang?
Yakin banget itu bakal jadi suaminya nanti?
Pertanyaan-pertanyaan aneh mulai muncul di otak saya.
Pada akhirnya saya melihat, banyak dari mereka yang berakhir naas; PUTUS. Cewenya mah nangis dan ngegalau, cowonya gencar nyari cewe baru. Berbanding terbalik ya, kawan-kawan -_-

Semakin aktif di Rohis, saya semakin melihat contoh-contoh dari kakak kelas saya. Hebat! Akhwat dan Ikhwan kece. Nggak pacaran, pinter, sholeh & sholehah, gaul syar’i, dll. Begitukah seharusnya?
Arus ini terus menyeret saya. Belum pernah sekalipun saya diceramahi tentang hukum pacaran dalam Islam. Saya cerita galau karena love life pun, kakak akhwat (nama disamarkan) itu tetap sabar mendengarkan. Saya dibiarkan berpendapat sesuka hati saya, namun setelah itu dia mengeluarkan kalimat-kalimat persuasif secara perlahan. Saya tidak diintimidasi, namun dengan kalimat sederhana dan ramah itu... saya dapat mengerti maksudnya. Lama-lama mindset saya tentang arti kebahagiaan karena pacaran itu berubah. Saya merasa lebih bahagia memiliki orang-orang seperti mereka.

Hingga akhirnya, menjelang kepengurusan tahun mereka turun ke angkatan saya. Ada yang mengganjal di hati ini. Masihkah saya akan terus begini? Bertingkah aneh dalam menghadapi love life? Tidak pacaran memang, namun apakah pantas jejingkrakkan setiap habis berinteraksi? Apa saya akan mencontohkan isi twitter semacam lirik lagu gombal ke adik kelas saya nanti? Luruskah niat dakwah ini semata hanya karena Allah? Mau jadi apa organisasi ini kalo semuanya seperti saya?
Saya berdiskusi dengan beberapa teman angkatan saya. Pertanyaan yang sama ternyata berputar juga di hati mereka. Galau memang pada awalnya, namun saya senang... saya sangat terharu ketika kami saling berjanji untuk mencoba meninggalkan love life dan akan saling mengingatkan.

Beberapa bulan berlalu dengan tenang. Bebas ngapain aja atau nggak ngerasa khawatir berinteraksi dengan ikhwan karena memang tidak ada perasaan aneh-aneh. Hidup serba cengengesan dan semangat banget menjalani aktivitas di sekolah, termasuk organisasi.

Tapi, tiba-tiba... Di tengah perjalanan, hati ini di uji lagi... Ada sosok yang membuat saya tersandung lagi. Setelah lama tidak merasakan, rasanya sekarang malah gawat kalo ketemu. Saya malah sibuk nyari jalan menghindar kalo tiba-tiba bakal papasan di koridor.
Sempat menangis ketika tahu tersandung lagi. Kenapa cobaan ada aja?! Kenapa harus saya yang tersandung?! Saya takut setitik rasa itu menodai semua niat saya berada di jalan ini. Saya suka uring-uringan gara-gara kesel sama diri sendiri. Kenapaaa -__-
Setelah menghindar beberapa saat karena efek “shock” (lebay) akibat tersandung, saya akhirnya bisa mengendalikan rasa shock tersebut hahaha. Saya berani berinteraksi seperti biasa karena sudah merasa perasaan ini bisa di ajak kompromi dan insyaAllah tidak akan merugikan saya sendiri dari segi Ruhiyah.
Saya sadar, perasaan itu fitrah dari Allah untuk manusia. Saya mengubah perasaan itu menjadi hanya sekedar perasaan kagum biasa. Karena namanya perasaan mau dipaksa gimana juga, gak ilang-ilang. Hanya bisa di convert, dan kita pilih mau di apakan perasaan itu. Dan saya memilih untuk memendam perasan ini, karena saya yakin... cinta ini berharga dan tidak perlu di umbar-umbar di mana-mana.
 Satu kata sederhana dari kakak kelas saya dijaman galau saya saat awal SMA dulu, “kalo jodoh enggak bakal kemana-mana, kalo nggak jodoh ya pasti kemana-mana...” . It’s true! Kata-kata sumper ampuh! Allah udah menuliskan yang terbaik buat kita di Lauhul Mahfudz . Kalo udah Allah yang nentuin ya, buat apa masih ragu dengan berpendapat “Kalo nggak jadi pacar gue, nanti dia jadinya sama orang lain?” . Emang kalo dia pacar kita, jaminan dia jadi jodoh kita?! Enggak kan? -__-
Dan rasanya, lebih nyaman dipendam sendiri. Tenang banget, gak takut ketauan sama siapa-siapa. Kata-kata dari sahabat saya di SMP,
Ketika kita cerita tentang orang yang kita sukai ke orang lain, bisa saja orang yang diceritain sama kita suka juga sama orang itu. Yang ada malah bikin saling curiga dan nyakitin dianya kan?” Dan, ini terbukti. Bahaha, saya diceritain sama orang, padahal mah saya juga... -__-
Yang terakhir, yang membuat semakin tenang. “...dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula).” (An Nuur: 26) 

Jadi, biarkanlah saya menikmati pemandangan-jarak-jauh ini. Biarkan terpendam hingga waktunya. #wedeh

Rasanya failed seorang saya; anak kelas XI SMA, berbicara tentang jodoh dan cinta-cintaan wkwkwk. Sok ngerti gimana gitu. Tapi rasanya lebih baik nulis sana sini ketimbang saya mengaplikasikan “cinta” itu sendiri sekarang (re : pacaran). Apa kata orang tua saya kalo tau saya nulis kayak beginian di blog. Hahaha, tapi yasudahlah ya. Bohong kalo bilang anak SMA belum paham yang dibahas ini.

Tujuan saya menulis tentang ini ya supaya saya inget terus kata-kata saya di atas ketika sedang futur nanti. Saya berharap, semakin banyak yang terajak untuk #CintaDalamDiam hahaha. Sebenernya di atas itu bukan curcolan sih, hanya sebatas contoh saja. Saya juga dulunya tidak paham apa itu arti cinta dan pacaran itu sediri dalam Islam, tapi Alhamdulillah semuanya jelas sekarang. Awalnya menganggap ekstrim dan nggak mungkin bisa enggak punya love life, tapi perlahan akhirnya bisa juga. Yang penting, bismillah aja... Punya perasaan itu tidak dilarang dalam Islam, yang dilarang adalah mengaplikasikannya sebelum halal.
Sebenernya memang udah jelas banget hukumnya, memang manusia seperti kita cenderung mencari pembenaran. Saya inget banget pertama kali ngajak kakak kelas debat soal pacaran dan HTSan, banyak banget argumennya. Hahaha, akhirnya sadar sendiri. Diberitahu kebenaran, seharusnya kita taat bukan membangkang. Jadi malu kalo inget dulu nih :”

Sekian,
Syukron, wassalamualaikum warahmatullah wabarakatuh

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.