Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh
Long time no see. Lama tidak menulis, kangen juga.
Well, to the point aja dari judulnya. Sebagai remaja, wajar bagi
kita untuk tersandung dalam sebuah kata bernama "cinta".
uhukuhuk.
Semriwing rasanya kalo ketemu, senyam-senyum sendiri kalo lagi
ngobrol, atau jejingkrakkan di kamar kalo dapet sms dari si doi. Hahahaha,
lawak.
Sayapun begitu. Tapi itu... dulu.
Sebelumnya, rasanya wajar melihat orang pacaran di sekolah.
Sayapun berencana akan melakukan hal yang sama selepas lulus SMA nanti karena
sebelum tamat SMA saya tidak diijinkan oleh kedua orang tua saya. Namun, arus
Rohis ini menyeret saya lebih dalam memahami apa itu pacaran sebenarnya dalam
agama ini. Masih ada pro dan kontra tentang pacaran dalam diri saya saat
pertama kali ikut belajar disini. Masuk SMA-pun sejujurnya saya masih terlibat
dengan seseorang.
Dan pada akhirnya, Allah membiarkan saya lebih tenggelam lagi
disini. Saya memperhatikan sekeliling saya, teman-teman saya yang sedang
menjalin sebuah hubungan bernama pacaran. Jadian, smsan, teleponan unyu,
pegangan tangan, bermanja-manja, sampe tukeran jawaban pas ulangan -___- Kok
rasanya aneh?!
Kok cewe-cewe itu mau dipegang-pegang?
Mau dirangkul?
Yakin banget pacarnya Cuma romantis sama
dia doang?
Yakin banget itu bakal jadi suaminya
nanti?
Pertanyaan-pertanyaan aneh mulai muncul di otak saya.
Pada akhirnya saya melihat, banyak dari mereka yang berakhir naas;
PUTUS. Cewenya mah nangis dan ngegalau, cowonya gencar nyari cewe baru.
Berbanding terbalik ya, kawan-kawan -_-
Semakin aktif di Rohis, saya semakin melihat contoh-contoh dari
kakak kelas saya. Hebat! Akhwat dan Ikhwan kece. Nggak pacaran, pinter, sholeh
& sholehah, gaul syar’i, dll. Begitukah seharusnya?
Arus ini terus menyeret saya. Belum pernah sekalipun saya
diceramahi tentang hukum pacaran dalam Islam. Saya cerita galau karena love
life pun, kakak akhwat (nama disamarkan) itu tetap sabar mendengarkan. Saya
dibiarkan berpendapat sesuka hati saya, namun setelah itu dia mengeluarkan kalimat-kalimat
persuasif secara perlahan. Saya tidak diintimidasi, namun dengan kalimat
sederhana dan ramah itu... saya dapat mengerti maksudnya. Lama-lama mindset
saya tentang arti kebahagiaan karena pacaran itu berubah. Saya merasa lebih
bahagia memiliki orang-orang seperti mereka.
Hingga akhirnya, menjelang kepengurusan tahun mereka turun ke
angkatan saya. Ada yang mengganjal di hati ini. Masihkah saya akan terus
begini? Bertingkah aneh dalam menghadapi love life? Tidak pacaran memang, namun
apakah pantas jejingkrakkan setiap habis berinteraksi? Apa saya akan
mencontohkan isi twitter semacam lirik lagu gombal ke adik kelas saya nanti? Luruskah
niat dakwah ini semata hanya karena Allah? Mau jadi apa organisasi ini kalo
semuanya seperti saya?
Saya berdiskusi dengan beberapa teman angkatan saya. Pertanyaan
yang sama ternyata berputar juga di hati mereka. Galau memang pada awalnya,
namun saya senang... saya sangat terharu ketika kami saling berjanji untuk
mencoba meninggalkan love life dan akan saling mengingatkan.
Beberapa bulan berlalu dengan tenang. Bebas ngapain aja atau nggak
ngerasa khawatir berinteraksi dengan ikhwan karena memang tidak ada perasaan
aneh-aneh. Hidup serba cengengesan dan semangat banget menjalani aktivitas di
sekolah, termasuk organisasi.
Tapi, tiba-tiba...
Di tengah perjalanan, hati ini di uji lagi... Ada sosok yang membuat saya
tersandung lagi. Setelah lama tidak merasakan, rasanya sekarang malah gawat
kalo ketemu. Saya malah sibuk nyari jalan menghindar kalo tiba-tiba bakal
papasan di koridor.
Sempat menangis ketika tahu tersandung lagi. Kenapa cobaan ada
aja?! Kenapa harus saya yang tersandung?! Saya takut setitik rasa itu menodai
semua niat saya berada di jalan ini. Saya suka uring-uringan gara-gara kesel
sama diri sendiri. Kenapaaa -__-
Setelah menghindar beberapa saat karena efek “shock” (lebay)
akibat tersandung, saya akhirnya bisa mengendalikan rasa shock tersebut hahaha.
Saya berani berinteraksi seperti biasa karena sudah merasa perasaan ini bisa di
ajak kompromi dan insyaAllah tidak akan merugikan saya sendiri dari segi
Ruhiyah.
Saya sadar, perasaan itu fitrah dari Allah untuk manusia. Saya
mengubah perasaan itu menjadi hanya sekedar perasaan kagum biasa. Karena
namanya perasaan mau dipaksa gimana juga, gak ilang-ilang. Hanya bisa di convert,
dan kita pilih mau di apakan perasaan itu. Dan saya memilih untuk memendam
perasan ini, karena saya yakin... cinta ini berharga dan tidak perlu di
umbar-umbar di mana-mana.
Satu kata sederhana dari
kakak kelas saya dijaman galau saya saat awal SMA dulu, “kalo jodoh enggak
bakal kemana-mana, kalo nggak jodoh ya pasti kemana-mana...” . It’s
true! Kata-kata sumper ampuh! Allah udah menuliskan yang terbaik buat kita di
Lauhul Mahfudz . Kalo udah Allah yang nentuin ya, buat apa masih ragu dengan
berpendapat “Kalo nggak jadi pacar gue,
nanti dia jadinya sama orang lain?” . Emang kalo dia pacar kita, jaminan
dia jadi jodoh kita?! Enggak kan? -__-
Dan rasanya, lebih nyaman dipendam sendiri. Tenang banget, gak
takut ketauan sama siapa-siapa. Kata-kata dari sahabat saya di SMP,
“Ketika kita cerita tentang
orang yang kita sukai ke orang lain, bisa saja orang yang diceritain sama kita
suka juga sama orang itu. Yang ada malah bikin saling curiga dan nyakitin dianya
kan?” Dan, ini terbukti. Bahaha, saya diceritain sama orang, padahal mah
saya juga... -__-
Yang terakhir, yang
membuat semakin tenang. “...dan
wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang
baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula).” (An Nuur: 26)
Jadi, biarkanlah saya menikmati pemandangan-jarak-jauh ini. Biarkan
terpendam hingga waktunya. #wedeh
Rasanya failed seorang saya; anak kelas XI SMA, berbicara tentang
jodoh dan cinta-cintaan wkwkwk. Sok ngerti gimana gitu. Tapi rasanya lebih baik
nulis sana sini ketimbang saya mengaplikasikan “cinta” itu sendiri sekarang (re
: pacaran). Apa kata orang tua saya kalo tau saya nulis kayak beginian di blog.
Hahaha, tapi yasudahlah ya. Bohong kalo bilang anak SMA belum paham yang
dibahas ini.
Tujuan saya menulis tentang ini ya supaya saya inget terus
kata-kata saya di atas ketika sedang futur nanti. Saya berharap, semakin banyak
yang terajak untuk #CintaDalamDiam hahaha. Sebenernya di atas itu bukan
curcolan sih, hanya sebatas contoh saja. Saya juga dulunya tidak paham apa itu
arti cinta dan pacaran itu sediri dalam Islam, tapi Alhamdulillah semuanya
jelas sekarang. Awalnya menganggap ekstrim dan nggak mungkin bisa enggak punya
love life, tapi perlahan akhirnya bisa juga. Yang penting, bismillah aja...
Punya perasaan itu tidak dilarang dalam Islam, yang dilarang adalah
mengaplikasikannya sebelum halal.
Sebenernya memang udah jelas banget hukumnya, memang manusia
seperti kita cenderung mencari pembenaran. Saya inget banget pertama kali
ngajak kakak kelas debat soal pacaran dan HTSan, banyak banget argumennya.
Hahaha, akhirnya sadar sendiri. Diberitahu kebenaran, seharusnya kita taat
bukan membangkang. Jadi malu kalo inget dulu nih :”
Sekian,
Syukron, wassalamualaikum warahmatullah wabarakatuh
No comments:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.