Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh...
Tahun ini ada banyak tanggung jawab baru yang memungkinkan saya menduduki suatu jabatan dalam organisasi yang saya ikuti. Namun, dilema baru kini menyergap saya...
Menurut pandangan saya, tanggung jawab yang diharuskan kepada kita memberikan kita 2 kesempatan untuk bertindak:
1. Memaksakan diri mengemban suatu jabatan yang sudah pasti diikuti tanggung jawab dengan alasan tidak ada pengganti
2. Melepaskan jabatan yang kita emban daripada kita tidak yakin akan dapat melaksanakannya
Pilihan pertama itu hampir yang paling sering terjadi dikehidupan. Bahkan terkadang, seseorang rela menjebloskan dirinya sendiri ke dalam suatu jabatan padahal ia sendiri merasa ia tak sanggup dalam menjalankannya. Kalau didalam organisasi, biasanya seseorang mau memilih jalan ini karena memang tidak ada pengganti apabila ia tidak mengambil tanggung jawab tersebut.
Dan setelah mereka menjalaninya , ternyata karena alasannya karena memaksakan diri tanpa memperhitungkan tanggung jawab; mereka banyak menyelewengkan dan menyimpang dari tanggung jawab tersebut.
Misalnya; di organisasi keagamaan islam. Seorang pengurus tidak diperkenankan pacaran atau tidak memakai jilbab.
Namun, karena tidak ada orang lain dan ia tidak bisa meninggalkan pacarnya atau belum bisa memakai jilbabnya, dia tetap menjabat di organisasi tersebut. termasuk saya.
Karena tidak ada pengganti orang tersebutpun, seorang ketua tidak bisa berbuat banyak dengan keadaan seperti ini.
Jadi, seandainya saya mundur; siapa nanti yang meneruskan? Mengingat peminat rohis dimasa sekarang sudah sangatlah minim -_-
Pilihan kedua. Saya terpikirkan untuk mundur dari jabatan di kelas 11 nanti. Saya masih menyimpan sms2 unyu dan belum bisa menjanjikan saya akan memakai jilbab seutuhnya. Kalau saya paksakan, berapa banyak dosa yang saya punya karena menyelewengkan tanggung jawab di organisasi karena peraturan pengurus harus berjilbab dan tidak berpacaran?
Di hari akhir nanti, Allah akan menghisab berapa banyak tanggung jawab yang kita selewengkan? Apa saya sanggup untuk mempertanggung jawabkannya apabila saya tidak mundur?
Kalo ada yang bilang bahwa pemikiran kedua saya ini kelewat kejauhan dan lebay. Tapi memang ini yang harus kita pertanyakan pada diri kita sendiri, karena kita sudah seharusnya memilih mana yang hak dan yang bathil.
DILEMA.
1 : Jika saya mundur, adakah yang mau menggantikannya?
2 : Jika saya tidak mundur, apakah saya dapat mempertanggung jawabkannya kelak di Yaumul Hisab?
sampai detik ini saya masih belum bisa memutuskan, tapi mudah-mudahan Allah SWT memberikan petunjuknya untuk saya dan pengurus lainnya. Amiin
Syukran katsir , wassalamualaikum warahmatullah wabarakatuh
No comments:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.